Pada akhir Mei 2012 yang lalu saya sebagai utusan dari Arus Pelangi yang juga mewakili komunitas LGBT Indonesia mendapat kesempatan ke Geneva – Switzerland untuk melihat dan memahami proses UPR (universal periodic review) ke-13. Keberangkatan saya didukung penuh oleh ILGA World dalam hal ini utamanya oleh Patricia Curzi yang terus membantu saya untuk lebih jauh memahami proses yang terjadi di dalam dan di luar sidang.
Author Archives: Yulita Molyganta
[Versi Indonesia] INDONESIA: Rekomendasi UPR 2012: Tantangan Komitmen Indonesia dalam Penegakan HAM 4 Tahun ke Depan
Pernyataan bersama KontraS, SETARA Institute, Asian Human Rights Commission, International Center for Transitional Justice, Persekutuan Gereja Indonesia dan Protection International
KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan), SETARA Institute, AHRC (Asian Human Rights Commission), ICTJ (International Center for Transitional Justice), PGI (Persekutuan Gereja Indonesia) serta Protection International (PI) menyambut baik rekomendasi hasil sidang UPR (Universal Periodic Review) yang dirilis pada 25 Mei kemarin. Sidang UPR telah meluncurkan segudang rekomendasi penting yang harus ditindaklanjuti oleh pemerintah Indonesia dalam 4 tahun ke depan dalam penegakan HAM. Continue reading
INDONESIA: UPR 2012 recommendation: challenges to Indonesia’s commitment in enforcing human rights for the next 4 years
A Joint Statement by Kontras, SETARA Institute, Asian Human Rights Commission, International Center for Transitional Justice, Indonesian Church Fellowship and Protection International
KontraS (The Commission for the Disappeared and Victims of Violence), SETARA Institute, AHRC (Asian Human Rights Commission), ICTJ (International Center for Transitional Justice, PGI (Indonesian Church Fellowship) and PI (Protection International) welcome the recommendation of the UPR (Universal Periodical Review) session released on May 25, 2012. The UPR Session has released a number of recommendations in regards to human rights enforcement that we see as important and must be followed up by the Indonesian Government in the next four years. Continue reading
Webcast : Final Remarks, UPR Report of Indonesia, 13th Universal Periodic Review
The Jakarta Post : Lying for the country
The trouble with Foreign Minister Marty Natalegawa is that he has probably spent too much of time travelling abroad to really understand what’s going on in his own country. On Monday he said the government has done enough to protect the interests of Indonesia’s religious minorities.
On the eve of a periodic review of Indonesia’s human rights record before the UN Human Rights Council, Marty toed the official line, saying the government has done whatever was necessary to protect the followers of Ahmadiyah by citing a number of laws and regulations enacted in the name of religious harmony. Continue reading
Opening Party #IDAHO2012 will be held at New Heaven Jakarta
New Heaven Jakarta bekerja sama dengan Forum LGTIQ (Arus Pelangi, Ardanary Institute, GWL INA, IPP, GWL Muda, Our Voice, YIM, Q-munity), mengundang anda pada:
The OPENING PARTY
IDAHO 2012
(International Day Against Homophobia & Transphobia)
Siaran Pers Arus Pelangi “Diskriminasi Terhadap Transgender di Ruang Publik”
Rekan-rekan yang terhormat berikut saya lampirkan hasil siaran pers pada Rabu, 11 April 2012. Mohon kritik dan saranya, terimakasih.
Diskriminasi Terhadap Transgender di Ruang Publik
Jakarta, Rabu (11/04/2012) diadakan siaran pers diadakan di kantor Arus Pelangi jl. Tebet Timur Dalem 6 g no.1, Jakarta Selatan. Mengulas “Diskriminasi Terhadap Transgender di Ruang Publik”. Dengan beberapa narasumber yakni : Widodo Budidarmo (Koordinator Arus Pelangi), Merlyn Sopjan (Koordinator Project), Yulianus Rettoblaut (Ketua Forum Komunikasi Waria). Continue reading
Aksi Perempuan Menolak Perkosaan
Lebih dari 100 perempuan dan laki laki berkumpul dan berorasi di bundaran HI, minggu 18 september 2011, aksi ini dipicu oleh maraknya pemerkosaan dan pelecehan seksual akhir-akhir ini dan juga kecewa atas statement dari orang nomor 1 di jakarta (fauzi bowo) yang mengatakan bahwa pemicu pemerkosaan adalah cara berpakaian perempuan.
Aksi ini berlangsung dari pukul 15.00 – 17.00, sambil berorasi, membawa poster bertuliskan “jangan salahkan baju kami, hukum si pemerkosa”, “bukan roknya yang salah, tapi otak kalian yang mini”, “kendalikan nafsumu, bukan kendalikan pakaianku”, “tubuhku tidak porno, yang porno otakmu”, “ dont blame the victim”. Continue reading
